Di tengah euforia Piala Dunia FIFA 2026, Ambon kembali menunjukkan satu hal yang telah lama menjadi identitasnya: sepak bola bukan sekadar pertandingan yang ditonton dari layar kaca, melainkan juga ruang perjumpaan yang mempertemukan banyak orang, me
Ambon (KABARIN) -
Hujan deras yang sempat mengguyur Kota Ambon pada Kamis pagi tak menyurutkan antusiasme warga menyambut dimulainya Piala Dunia FIFA 2026. Di sejumlah ruas jalan pusat kota, ribuan orang berkumpul mengenakan jersey tim nasional favorit mereka.
Mereka datang bergelombang menuju Lapangan Merdeka. Tawa, sapaan, dan obrolan seputar sepak bola terdengar bersahutan, menghadirkan suasana yang mengingatkan bahwa pesta sepak bola terbesar di dunia selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Ambon.
Bagi warga kota ini, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan yang disaksikan dari layar kaca. Ajang empat tahunan itu telah menjadi ruang perjumpaan yang mempererat persaudaraan dan menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang. Fanatisme terhadap tim tertentu memang tidak pernah hilang, tetapi di atas semuanya terdapat kecintaan yang sama terhadap sepak bola.
Semangat itu terlihat dalam Ambon Color Fun Walk 2026 yang digelar Pemerintah Kota Ambon sebagai bagian dari euforia menyambut dimulainya Piala Dunia FIFA 2026. Sekitar 7.000 warga turun ke jalan, berjalan bersama dalam suasana yang lebih menyerupai perayaan kota daripada sekadar kegiatan olahraga.
Tak ada sekat yang membedakan pendukung satu tim dengan tim lainnya. Jersey Argentina berjalan berdampingan dengan Brasil, Spanyol, Jerman, hingga Portugal. Di tengah warna-warni atribut yang dikenakan peserta, mereka saling bercengkerama, berfoto, dan menikmati perjalanan bersama.
Di sekitar lokasi kegiatan, para pelaku UMKM turut meramaikan suasana. Lapak makanan, minuman, hingga berbagai produk lokal dipadati pengunjung yang menikmati momen kebersamaan tersebut.
Kota yang Tak Pernah Jauh dari Sepak Bola
Di Ambon, sepak bola memiliki cerita panjang. Dari lapangan-lapangan kampung hingga pertandingan internasional, olahraga ini selalu menjadi bahan percakapan yang mampu menyatukan banyak orang. Ketika Piala Dunia tiba, semangat itu terasa semakin kuat.
Warung kopi dan rumah-rumah warga berubah menjadi tempat berkumpul untuk menyaksikan pertandingan. Obrolan tentang prediksi skor, pemain andalan, hingga peluang tim favorit mengisi keseharian masyarakat. Bahkan jauh sebelum laga pertama dimulai, jersey berbagai negara sudah terlihat dikenakan warga di berbagai sudut kota.
Di antara banyak negara peserta, Belanda dan Argentina menjadi dua tim yang memiliki basis pendukung terbesar di Ambon. Dukungan terhadap kedua negara tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan diwariskan lintas generasi. Tidak sedikit keluarga yang mempertahankan tradisi mendukung tim yang sama sejak era para pemain legendaris mereka.
Fanatisme itu tampak jelas dalam Color Fun Walk. Jersey oranye khas Belanda dan biru-putih Argentina mendominasi kerumunan peserta. Namun alih-alih memunculkan rivalitas, perbedaan pilihan justru menjadi warna yang memperkaya suasana.
Bagi para pendukung Belanda, turnamen kali ini menghadirkan optimisme tersendiri. Salah seorang peserta yang mengenakan jersey oranye mengaku yakin tim berjuluk De Oranje mampu mengakhiri penantian panjang mereka untuk meraih gelar juara dunia.
“Setidaknya Belanda kali ini bisa membawa pulang Piala Dunia. Apalagi sudah ada prediksi dari seorang ekonom dunia yang tiga kali berturut-turut berhasil memprediksi juara Piala Dunia. Sekarang dia juga memprediksi Belanda akan menang,” kata Novrat Nanulaitta (35).
Menurutnya, kegiatan seperti Color Fun Walk menjadi ruang yang mempertemukan para pencinta sepak bola tanpa memandang perbedaan tim dukungan.
“Semoga ke depan ada kegiatan-kegiatan seperti ini lagi. Yang pasti Pemkot Ambon di bawah kepemimpinan Pak Bodewin selalu mengapresiasi kegiatan yang damai, bukan yang membawa hal-hal tidak baik, tetapi yang berdampak positif bagi para pendukung seluruh peserta Piala Dunia yang ada di Kota Ambon,” ujarnya.
Optimisme serupa juga datang dari kubu Argentina. Sebagai juara bertahan, Albiceleste dinilai masih memiliki peluang besar untuk kembali bersaing di level tertinggi. Dukungan terhadap Argentina di Ambon pun tetap kuat meski generasi pemain terus berganti.
Rina Latuheru (32), salah seorang pendukung Argentina, berharap tim kesayangannya mampu mengulangi prestasi pada edisi sebelumnya.
“Argentina sudah memberi kami banyak kenangan indah. Sebagai juara sebelumnya, tentu kami berharap mereka bisa tampil maksimal dan kembali membawa pulang trofi. Tapi yang paling penting, semangat kebersamaan seperti hari ini tetap terjaga. Walaupun berbeda tim dukungan, semua bisa berjalan bersama dan menikmati suasana dengan gembira,” katanya.
Di Ambon, perbedaan dukungan tidak selalu melahirkan rivalitas. Sebaliknya, kecintaan yang sama terhadap sepak bola justru menjadi ruang perjumpaan yang mempererat hubungan antarmasyarakat. Fanatisme hadir sebagai identitas, tetapi tidak berubah menjadi sekat yang memisahkan.
Ketika Ribuan Langkah Menjadi Simbol Solidaritas
Nilai itulah yang ingin dibangun Pemerintah Kota Ambon melalui Ambon Color Fun Walk 2026. Bagi pemerintah kota, kegiatan tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai ajang olahraga dan hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk mempererat hubungan sosial antarwarga.
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, mengatakan momen dimulainya Piala Dunia FIFA 2026 menjadi kesempatan yang tepat untuk menghadirkan kegiatan yang mampu memperkuat rasa kebersamaan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan itu diharapkan dapat terus merajut solidaritas warga Ambon, memperkuat rasa persaudaraan, serta meningkatkan semangat juang dan sportivitas dalam kehidupan bermasyarakat.
Semangat kebersamaan tersebut juga menjadi alasan mengapa Pemerintah Kota Ambon memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan kecintaan mereka terhadap sepak bola selama Piala Dunia berlangsung.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Ambon, Richard Luhukay, mengatakan euforia Piala Dunia di Ambon memiliki karakter yang unik karena melibatkan berbagai kelompok pendukung dalam satu ruang yang sama. Menurutnya, pemerintah ingin memastikan fanatisme yang muncul dapat diwujudkan dalam bentuk yang positif dan bertanggung jawab.
“Euforia ini kami maknai sebagai sukacita, keseruan, dan kegembiraan. Bukan menjadi ruang untuk saling mencibir atau merendahkan satu sama lain. Kita harus menunjukkan profesionalisme dalam konteks fanatisme kita sebagai pendukung sepak bola,” katanya.
Richard menjelaskan, kegiatan Color Fun Walk menjadi momentum pertama yang mempertemukan berbagai kelompok pendukung tim nasional dalam satu kegiatan konvoi damai yang difasilitasi pemerintah. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk komunikasi pemerintah kepada masyarakat bahwa menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan kota merupakan tanggung jawab bersama.
Menurutnya, pemerintah juga berencana memfasilitasi sejumlah kegiatan lanjutan selama Piala Dunia berlangsung, termasuk nonton bareng dan konvoi damai yang akan diatur melalui koordinasi bersama para pendukung.
Bahkan, kata Richard, Pemerintah Kota Ambon tengah menjajaki kemungkinan menghadirkan Duta Besar Belanda untuk Indonesia dalam salah satu agenda nonton bareng pertandingan Belanda selama Piala Dunia. Kehadiran tersebut diharapkan dapat semakin menyemarakkan perayaan sepak bola di Ambon.
“Ke depan, euforia Piala Dunia harus bisa diluapkan secara teratur dan bertanggung jawab. Kalau ada nonton bareng dalam skala besar maupun konvoi, semuanya harus dikoordinasikan dengan baik demi menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama,” ujarnya.
Peserta yang berasal dari berbagai komunitas, instansi, kelompok usia, hingga lingkungan tempat tinggal yang berbeda tampak berbaur tanpa sekat. Mereka berjalan bersama, berfoto bersama, dan menikmati kegiatan dalam suasana yang hangat.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, kebersamaan seperti itu menjadi pengingat bahwa solidaritas sosial tetap menjadi salah satu kekuatan utama warga Ambon.
Piala Dunia Menggerakkan Ekonomi Kota
Selain menghadirkan kebersamaan, euforia Piala Dunia juga membawa dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Sejak beberapa hari sebelum pelaksanaan kegiatan, permintaan jersey meningkat cukup signifikan. Pemerintah Kota Ambon memperkirakan transaksi pembelian jersey peserta mencapai sekitar Rp1 miliar. Perputaran uang tersebut sebagian besar dinikmati pedagang kecil yang menjual perlengkapan dan atribut sepak bola.
Kehadiran ribuan peserta dalam Color Fun Walk juga membawa berkah bagi para pelaku UMKM yang membuka lapak di sekitar lokasi kegiatan. Makanan, minuman, dan berbagai produk lokal laris diburu pengunjung yang datang menikmati kemeriahan acara.
Pemerintah Kota Ambon melihat geliat ekonomi yang muncul selama Piala Dunia sebagai peluang yang dapat dikembangkan lebih jauh. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Ambon mulai mendorong pengembangan sport tourism dan sport industry agar manfaat dari berbagai kegiatan olahraga dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Kini, olahraga tidak lagi semata berbicara tentang prestasi. Lebih dari itu, olahraga juga mampu menjadi penggerak ekonomi yang melibatkan sektor pariwisata, UMKM, dan industri kreatif.
Meningkatnya penjualan jersey, atribut pendukung, hingga ramainya kegiatan nonton bareng selama Piala Dunia menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang lahir dari sebuah peristiwa olahraga. Bagi pemerintah kota, momentum ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan Ambon sebagai destinasi sport tourism di kawasan timur Indonesia.
Menjelang siang, keramaian di Lapangan Merdeka perlahan mulai berkurang. Jersey berbagai negara yang sejak pagi memenuhi jalanan kota satu per satu menghilang bersama langkah para peserta yang kembali ke rumah masing-masing.
Mereka membawa tim favorit yang berbeda. Ada yang menaruh harapan pada Belanda, Argentina, Brasil, atau negara lainnya. Namun pagi itu, pilihan yang beragam tidak menjadi alasan untuk berjarak.
Di tengah euforia Piala Dunia FIFA 2026, Ambon kembali menunjukkan satu hal yang telah lama menjadi identitasnya: sepak bola bukan sekadar pertandingan yang ditonton dari layar kaca, melainkan juga ruang perjumpaan yang mempertemukan banyak orang, menggerakkan ekonomi warga, dan merawat persaudaraan di kota yang tak pernah jauh dari sepak bola.
Copyright © KABARIN 2026